Menghadapi Karakter Anak Bagian 1

  • 0

Menghadapi Karakter Anak Bagian 1

Anak – anak memiliki beragam sifat, kebiasaan, ciri khas, kemampuan, ketertarikan, dan lainnya. Seringkali orangtua bingung mengapa anaknya bergerak terus atau tidak bisa diam, seperti tidak ada lelahnya. Ada juga orangtua yang megeluh bahwa anaknya yang cerewet, selalu bicara, berisik, membuat kepala Ayah Bundanya pusing. Ada lagi anak yang pendiam, sedikit bicara namun jika sekali berbicara mengatakan ide – ide yang luar biasa, banyak berpikir, sensitif, dan mudah menangis. Masih banyak lagi anak – anak yang dikatakat galak, pemarah, penyayang binatang, senang memberi, suka menunda, sering tidur, dan sebagainya. Dimana kebanyakan orangtua bingung harus berbuat apa dan bagaimana menghadapinya.

Sesungguhnya jawabannya mudah. Untuk menjawabnya sederhana saja. Ambil contoh misalnya ada dua pengendara sepeda motor di tengah hutan pada siang hari. Pengendara pertama adalah seorang turis yang sedang jalan – jalan menggunakan motor. Pengendara ke-2 adalah seorang montir bengkel yang sedang menuju ke tempat temannya. Respon apa yang mungkin muncul dari masing – masing pengendara motor? Sudah bisa ditebak, bahwa respon pada umumnya, pengendara pertama akan bingung, menunggu orang datang membantu, atau marah – marah karena tidak ada yang membantu sampai malam tiba. Dia bersikap seperti itu karena dia tidak tahu cara memperbaiki sepeda motor yang mogok.

Lalu pengendara ke-2 sudah jelas apa yang akan dilakukannya. Ia akan memeriksa kerusakan dan memperbaikinya segera. Ia juga membawa peralatan bengkel darurat yang selalu ia siapkan dan memang mengerti cara memperbaiki sepeda motor yang mogok. Dia santai saja, tidak panik sama sekali. Sepeda motornya hidup kembali dan melanjutkan perjalanan.  Maka hal yang bisa kita petik dari cerita tersebut adalah jika kita memiliki banyak wawasan tentang cara menghadapi anak, respon kitapun akan tenang dan segera memperbaiki masalah yang terjadi pada anak.

Kita Akan memulainya dengan membahas mengenai kepribadian manusia dari buku personality plus karangan Florence Littauer. Di buku ini, Florence mengangkat ilmu yang sudah ada sejak 400 tahun sebelum masehi yang dipopulerkan oleh Hippocrates. Untuk dapat menolong insan yang memiliki kebutuhan dan kecenderungan berbeda-beda, kita perlu merujuk metode yang juga beraneka macam (Dalai Lama).

Manusia terbagi ke dalam empat kelompok kepribadian yaitu sanguinis, melankolis, koleris, dan plegmatis.

Sanguinis

Tipe yang ceria, heboh, suka bicara, mudah bergaul, agak ceroboh, pelupa. Cara mengahadapinya: 

Karakter sangunis adalah mereka yang ingin selalu diperhatikan, butuh kasih sayang, dukungan dan penerimaan dari orang-orang sekelilingnya. Mereka juga sangat haus pujian. Mereka melakukan segala sesuatu oleh niat untuk mendapatkan pujian. Sekecil apapun pujian dan penghargaan mereka pasti akan menyukainya. Seandainya dia sedang marah, kita harus lebih sabar untuk bisa menyenangkan hatinya dengan cara mencoba untuk membuat dia perhatian terhadap kita dengan menyuguhkan sesuatu yang menarik hatinya. Jangan sampai kita bersifat acuh terhadapnya. Jangan sekali-kali mengoreksinya ketika dia sedang marah karena marahnya tidak cepat reda. Carilah waktu yang tepat untuk mengingatkannya. Berusahalah untuk menjadi pendengar yang baik.

Koleris

Tipe pemimpin, tidak suka basa-basi, lugas, keras, percaya diri berlebih, sering merasa diri paling benar. Cara menghadapinya:

Anak – anak bertipe koleris tidak menyukai kritikan. Namun sebaliknya, mereka sangat suka mengkritik orang lain. Mereka suka berdebat, tetapi inti perdebatan itu adalah kemenangan baginya bukan mencari kebenaran. Jadi, jika kita terlibat pedebatan dengan orang-orang koleris, maka usahakan untuk tidak mengkritik opini mereka. Apabila kita tidak menyukai opini mereka, cukup kemukakan opini kita tanpa harus mematahkan opini dan argumentasi mereka.

Melankolis

Senang merenung, tipe pemikir, teratur, cenderung sensitif, moody. Cara menghadapinya:

Dalam menghadapi karakter melankolis ini memang tidak mudah. Kita harus peka dan segera mengoreksi diri kita sebelum ia mengoreksi kita. Jika ia sedang marah, jangan langsung diajak berbicara. Diamkanlah dan akuilah kesalahan kita walau sebenarnya kita tidak salah. Cara ini lebih aman dan nyaman. Melankolis butuh waktu untuk menenangkan diri karena mereka sibuk memikirkan dan mengoreksi kesalahan orang lain. Biasanya mereka sangat butuh dukungan untuk membenarkan pendapatnya. Untuk mengingatkan kesalahannya, mereka perlu diajak berpikir logis dengan mengembalikan kata-katanya. Kita perlu argumen yang kuat untuk meluluhkan hatinya.

Anak – anak bertipe melankolis menginginkan orang lain bisa memberinya dukungan, terutama dukungan yang bersifat moril. Terkadang mereka tidak bisa memecahkan permasalahan yang sedang mereka hadapi. Oleh karena itu kita harus mendengarkan keluh kesahnya dengan seksama. Jangan memotong pembicaraannya sebelum ia mempersilahkan kita menanggapi permasalahannya.

Plegmatis

Mencintai kedamaian, menghindari konflik, tenang, lambat, suka menunda. Cara menghadapinya:

Anak – anak bertipe plegmatis tidak menyukai orang-orang yang sama pasifnya atau lebih pasif dari mereka. Pada dasarnya, mereka lebih suka dipimpin dan mencari orang-orang yang bisa memotivasinya. Jika mereka dalam masalah biasanya cuma diam dan butuh waktu lama untuk menceritakan permasalahannya. Mereka paling tidak suka bila dipaksa untuk menceritakan permasalahannya dan lebih suka menangis. Mereka akan berbicara jika suasana hatinya sudah membaik.

Tipe plegmatis lebih suka dengan solusi dan paling tidak suka memperpanjang masalah. Paling tidak ada dua cara menghadapinya. Yang pertama, jangan terburu-buru untuk segera menyelesaikan masalah dengan mereka. Kedua, biarkan saja supaya mereka bisa berpikir lama, menilai, dan mencermati sikapnya sendiri.

Please follow and like us:

Parenting Quotes