Category Archives: UPDATES

  • 0

Mengajarkan Agama pada Anak

Category : UPDATES

Kali ini, kita akan membahas mengenai bagaimana mengajarkan Agama kepada anak, agar ajaran tersebut tertanam kuat dalam diri anak. Kemudian ajaran yang tertanam pada anak adalah hal – hal yang baik kepada Tuhan, diri sendiri, sesama manusia, dan alam semesta.

Kita akan membahas mengenai pengajaran agama ini dengan sederhana, agar langsung bisa dipraktekan sehari – hari.
Ada satu tulisan populer dalam mendidik anak dari Al-Hikmah, sebagai berikut:

  • Jika anak dibesarkan dengan celaan …. dia akan belajar memaki
  • Jika anak dibesarkan dengan cemoohan …. dia akan belajar rendah diri
  • Jika anak dibesarkan dengan permusuhan …. dia akan belajar menjadi jahat
  • Jika anak dibesarkan dengan hinaan …. dia akan belajar menyesali diri
  • Jika anak dibesarkan dengan dorongan …. dia akan belajar percaya diri
  • Jika anak dibesarkan dengan pujian …. dia akan belajar menghargai
  • Jika anak dibesarkan dengan rasa aman …. dia akan belajar menaruh kepercayaan
  • Jika anak dibesarkan dengan dukungan …. dia akan belajar menyenangi diri sendiri
  • Jika anak dibesarkan dengan toleransi …. dia akan belajar menahan diri
  • Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan …. dia belajar keadilan
  • Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan …. dia akan belajar menemukan cinta dalam hidupnya.

Dari penjelasan Al Hikmah, dengan jelas dapat dipahami bahwa sifat dan perilaku manusia, ditentukan dari hal – hal yang diajarkan dan ditanamkan padanya. Maka dalam beragama, jika kita mengajarkan tentang kasih sayang dalam beragama, maka anak akan menjalankan agamanya dengan menebarkan cinta kasih. Jika anak selalu diajarkan tentang ketakutan terhadap neraka, ancaman kemarahan Tuhan, maupun kekerasan jika anak tidak menjalankan ritual agama, maka anak akan menjalankan agamanya dengan ketakutan, bisa jadi menebarkan kekerasan, bahkan sampai menuai kebencian. Maka dengan merenungkan hal ini, diperlukan keseimbangan dalam mengajarkan cinta kasih dan larangan Tuhan kepada anak.

Berdasarkan prinspi psikologi dasar manusia, orang yang terbiasa dengan kelembutan, dia seantiasa akan menunjukkan perilaku lembut. Anak yang terbiasa diajarkan berbagi dan keikhlasan, maka dia akan menjadi pribadi yang senantiasa berbagi. Begitupun, jika anak berada dilingkungan penuh kekerasan, maka kemungkinan anak akan menunjukkan sikap maupun perilaku kasar.

Hal lainnya dijelaskan oleh George Charlin, seorang Komedian Pemerhati Kehidupan, sebagai berikut:

  • Menyalip di jalan raya
    Di jalan raya, banyak motor dan mobil saling menyalip satu sama lain. Mengapa? Karena dulu sejak kecil, di rumah dan di sekolah, mereka dididik untuk menjadi lebih cepat dan bukan menjadi lebih sabar. Mereka dididik untuk menjadi yang terdepan dan bukan yang tersopan.
  • Menambah kecepatan di jalan raya
    Di jalanan, pengendara motor lebih suka menambah kecepatannya saat ada orang yang ingin menyeberang jalan dan bukan malah mengurangi kecepatannya. Mengapa? Karena dulu sejak kecil, di rumah dan di sekolah, anak kita setiap hari diburu dengan waktu, di bentak untuk bergerak lebih cepat dan gesit, dan bukan dilatih untuk mengatur waktu dengan sebaik – baiknya, dan dibuat lebih sabar dan peduli.
  • Korupsi
    Di hampir setiap instansi pemerintah dan swasta, banyak para pekerja yang suka korupsi. Mengapa? Karena dulu sejak kecil, di rumah dan di sekolah, anak – anak dididik untuk berpenghasilan tinggi dan hidup dengan kemewahan, mulai dari pakaian hingga perlengkapan, dan bukan diajari untuk hidup lebih sederhana, ikhlas, dan bangga akan kesederhanaan.
  • Penegak hukum
    Di hampir setiap instansi sipil sampai petugas penegak hukum, banyak terjadi kolusi, manipulasi proyek, dan korupsi anggaran uang rakyat. Mengapa? Karena dulu sejak kecil, di rumah dan di sekolah, mereka dididik untuk menjadi lebih pintar, dan bukan menjadi lebih jujur dan bangga pada kejujuran.
  • Mudah marah dan merasa paling benar sendiri
    Di hampir setiap tempat, kita mendapati orang yang mudah sekali marah dan merasa diri paling benar. Mengapa? Karena dulu sejak kecil, di rumah dan di sekolah, mereka sering dimarahi oleh orang tua dan guru mereka, dan bukannya diberi pengertian dan kasih sayang.
  • Sikap tidak peduli
    Di hampir setiap sudut kota, kita temukan orang yang tidak lagi peduli pada lingkungan atau orang lain. Mengapa? Karena dulu sejak kecil, di rumah dan di sekolah, mereka dididik untuk saling berlomba untuk menjadi juara, dan bukan saling tolong – menolong untuk membantu yang lemah.
  • Mengkritik tanpa koreksi diri
    Di hampir setiap kesempatan, termasuk di media sosial, selalu saja ada orang yang mengkritik tanpa mau melakukan koreksi diri sebelumnya. Mengapa? Karena dulu sejak kecil, di rumah dan di sekolah, anak-anak biasa dikriktik, dan bukan didengarkan segala keluhan masalahnya.
  • Ngotot
    Di hampir setiap kesempatan, kita sering melihat ada orang “ngotot” dan merasa paling benar sendiri. Mengapa? Karena dulu sejak kecil, di rumah dan di sekolah, mereka sering melihat orang tua atau gurunya “ngotot” dan merasa paling benar sendiri.
  • Pengemis
    Di hampir setiap lampu merah dan rumah ibadah, kita banyak menemukan pengemis. Mengapa? Karena dulu sejak kecil, di rumah dan di sekolah, mereka selalu diberitahu tentang kelemahan – kelemahan dan kekurangan – kekurangan mereka, dan bukannya diajari untuk mengenali kelebihan – kelebihan dan kekuatan – kekuatan mereka.

Inilah penjelasan prinsip sederhana dari mengajarkan agama kepada anak. Maka cara seperti apakah yang kita pilih untuk mengajarkannya kepada anak – anak tercinta, calon penerus bangsa, dan pemegang panji – panji agama? Sesungguhnya didikan kita dalam agama kepada anak, akan membawa agama kita kelak akan seperti apa di masyarakat. Masihkah agama kita menjadi sandaran ketenangan batin bagi manusia dan karunia bagi alam semesta?

Please follow and like us:

  • 0

Memilih Sekolah

Category : UPDATES

Dalam memilihkan sekolah untuk anak, ada proses yang pada umumnya dilakukan dan ada proses yang sebaiknya dijalani.

photo: pexel.com

Pada umumnya ketika anak telah memasuki usia tertentu, yang dikatakan usia sekolah, misalnya 6 tahun untuk masuk SD, anak langsung dicarikan sekolah dan akhirnya masuk sekolah. Pada umumnya jika orangtua melakukan proses ini, yang anak ketahui adalah belajar di sekolah, mendapat nlai bagus, dan menjadi juara kelas. Namun jarang sekali muncul potensi unggul anak, yakni anak yang sudah senang pada suatu hal, kemudian menjadi ahli dalam hal tersebut di usia muda. Misalnya Joe Alexander, seorang anak dari Indonesia, menjadi pianis dunia di usia 12 tahun. Lionel Messi menjadi pemain sepakbola dunia di usia 18 tahun. Bill gates membuat sistem gaji karyawan terkomputerisasi untuk sebuah pabrik di usia 10 tahun. Kemudian Hee Ah Lee, Warren Buffet, Mahatma Gandhi, dan masih banyak lagi yang telah menunjukkan potensi unggulnya di usia belia. Karena di sekolah pada umumnya tidak ada mata pelajaran mengenali potensi diri dan pelajaran meraih kesuksesan.

Belum lagi permasalahan yang ada di sekolah. Bagaimana beradaptasi dengan guru yang favorit dan yang tidak cocok, teman yang baik maupun yang usil, adaptasi terhadap nilai tinggi dan yang tidak memuaskan, tiba – tiba sulit bangun pagi, tidak mau masuk sekolah, sakit perut atau keringat dingin di pagi hari, dan sekelumit permasalahan lainnya.

Maka untuk mengisi kekurangan tersebut, ada proses yang sebaiknya dijalani sebelum memasukkan anak ke sekolah. Prosesnya yakni tanyakan kepada anak bidang apa yang disenangi, ingin menjadi sehebat apa di masa depan, seperti siapa, kemudian hal apa yang perlu dipelajari, keahlian apa yang perlu dikuasai, barulah sekolah mana yang terbaik di dunia yang bisa membantunya menguasai bidang tersebut dan menghantarkannya kepada kesuksesan.

Lalu bagaimana jika orangtua mengatakan tidak ada waktu atau tidak mampu secara ekonomi? Sesungguhnya seorang Presiden pun memiliki waktu yang sama dengan kita yaitu 24 jam dalam sehari. Kemudian seorang B.J. Habibie pun berasal dari latar belakang keluarga yang kekurangan secara ekonomi. Maka masalahnya di sini adalah bukan ada atau tidak adanya waktu, dan bukan mampu atau tidak mampu secara ekonomi, namun mau atau tidak mau.

Kemudian ketika anak masuk sekolah berdasarkan keinginanya karena sudah mengetahui tujuannya, ia akan semangat menjalaninya, bahkan sekolah akan menjadi seperti liburan yang menyenangkan, dan proses belajar akan menjadi seperti bermain, yang membuat anak selalu antusias, bergairah, dan tak jarang belajar sendiri sampai larut malam karena dia senang, bukan terpaksa.

Yang menjadi catatan kemudian dalam pemilihan sekolah adalah perlu juga diperhatikan mengenai attitute warga di sekolah tersebut. Bagaimana sifat, sikap, dan tutur kata dari para guru di sekolah, para siswa, petugas kantin, dan staf lainnya. Karena kita pasti menginginkan lingkungan yang sehat untuk psikologis anak.

Sekolah terbaik adalah sekolah yang memberikan kebebasan kepada muridnya untuk mengeksplorasi dengan leluasa (Bob Sadino).

Please follow and like us:

  • 0

Memahami Anak

Category : UPDATES

Untuk semakin memahami anak, kita masuk dalam teori Dr. Gary Chapman tentang lima bahasa cinta anak.

  1. Kata-kata (Word of Affirmation). Memberikan kata-kata yang membuat anak bahagia. Seorang anak merasa disayang jika mendapatkan pujian dan kata-kata yang memberi semangat.

  2. Sentuhan (Physical Touch). Seorang anak merasa disayang jika mendapatkan sentuhan dengan penuh kasih, sesering mungkin dan pada saat tertentu.

  3. Hadiah (Receiving Gifts). Memberikan hadiah untuk apresiasi kepada anak. Bagi yang bahasa kasihnya hadiah, kejutan-kejutan kecil akan sangat menyenangkan untuk dirinya. Namun, bukan berarti hadiah harus selalu dalam bentuk barang yang mahal. Kreativitas, usaha Anda untuk mendapatkannya, dan unsur kejutannya punya peranan penting.

  4. Quality Time (saat-saat yang berkesan). Fokus pada anak untuk senang-senang atau aktivitas bersama pada waktu tertentu. Pastikan Anda “hadir” setiap kali sedang bersamanya. Bukan hanya hadir secara fisik, tetapi juga perhatian Anda.

  5. Pelayanan (Acts of Services). Melayani anak: saat sakit, saat butuh bantuan, saat ingin berkemah, piknik, saat berangkat sekolah. Misalnya membersihkan rumah, membuat rumah tampak rapi, menyiapkan sarapan dan makan malam, menyetrika bajunya, mengantar ke tempat bermain atau ke tempat lain.

Sistem keluarga bisa layu, dan perkembangan anak – anak menjadi tidak seimbang, kecuali jika hubungan dalam keluarga dibentengi dan diberi kesempatan untuk berkembang dan tiap anggota keluarga memiliki kesempatan untuk berkembang (Virginia Satir).

Galilah bakat, perasaan, minat, dan kebutuhan anak, dan secara halus luaskan cakrawala mereka dengan membantu mereka merasa lebih aman dengan diri mereka sendiri. Pengetahuan tentang anak ini akan memperkaya khasanah wawasan kehidupan kita sendiri, selain akan menguatkan interaksi seluruh keluarga.

Please follow and like us:

  • 0

Menghadapi Karakter Anak Bagian 2

Category : UPDATES

Kita sering kali mencoba memaksakan suatu kepribadian tertentu kepada anak anak. Padahal kita justru harus belajar menyesuaikan diri dengan kepribadian anak yang berbeda-beda dan mendorong mereka untuk menempuh jalan mereka masing-masing (Elizabeth Wagele). Ayah dan Bunda akan kesulitan jika memandang hanya ada satu cara mengasuh yang benar.

Kemudian dalam belajar, menurut Neuro Linguistic Programmin (NLP), ada tiga gaya belajar anak, yaitu visual, auditori, dan kinestetik.

photo: google

 

Visual
Gaya Belajar Visual (Visual Learners) menitikberatkan pada ketajaman penglihatan. Artinya, bukti-bukti konkret harus diperlihatkan terlebih dahulu agar mereka paham. Gaya belajar seperti ini mengandalkan penglihatan, yakni melihat dulu buktinya untuk kemudian bisa mempercayainya.

Ciri-ciri gaya belajar visual ini yaitu:

– Cenderung melihat sikap, gerakan, dan bibir guru yang sedang mengajar.
– Bukan pendengar yang baik saat berkomunikasi.
– Saat mendapat petunjuk untuk melakukan sesuatu, biasanya akan melihat teman-     teman lainnya baru kemudian dia sendiri yang bertindak.
– Tak suka bicara di depan kelompok dan tak suka pula mendengarkan orang lain.
– Terlihat pasif dalam kegiatan diskusi.
– Kurang mampu mengingat informasi yang diberikan secara lisan.
– Lebih suka peragaan daripada penjelasan lisan.
– Dapat duduk tenang di tengah situasi yang ribut dan ramai tanpa terganggu.

Strategi untuk mempermudah proses belajar anak visual:
>> Gunakan materi visual seperti gambar-gambar, diagram, dan peta.
>> Gunakan warna untuk menandai hal-hal penting.
>> Ajak anak untuk membaca buku-buku berilustrasi.
>> Gunakan multi-media (contohnya: komputer dan video).
>> Ajak anak untuk mencoba mengilustrasikan ide-idenya ke dalam gambar.

Auditori
Gaya belajar Auditori (Auditory Learners) mengandalkan pada pendengaran untuk bisa memahami dan mengingatnya. Karakteristik model belajar seperti ini benar-benar menempatkan pendengaran sebagai alat utama menyerap informasi atau pengetahuan. Artinya, anak harus mendengar, baru kemudian bisa mengingat dan memahami informasi itu.

Ciri-ciri gaya belajar Auditori yaitu :

   – Mampu mengingat dengan baik penjelasan guru di depan kelas, atau materi              yang didiskusikan dalam kelompok/ kelas.
   – Pendengar ulung, yakni anak mudah menguasai materi iklan/ lagu di tv/ radio.
   – Cenderung banyak bicara.
   – Tak suka membaca dan umumnya memang bukan pembaca yang baik karena           kurang dapat mengingat dengan baik apa yang baru saja dibacanya.
   – Kurang cakap dalm mengerjakan tugas mengarang / menulis.
   – Senang berdiskusi dan berkomunikasi dengan orang lain.
   – Kurang tertarik memperhatikan hal-hal baru di lingkungan sekitarnya, seperti             hadirnya  anak baru, adanya papan pengumuman di pojok kelas, dll.

Strategi untuk mempermudah proses belajar anak auditori:

   >> Ajak anak untuk ikut berpartisipasi dalam diskusi baik di dalam kelas                         maupun di dalam keluarga.
   >> Dorong anak untuk membaca materi pelajaran dengan keras.
   >> Gunakan musik untuk mengajarkan anak.
   >> Diskusikan ide dengan anak secara verbal.
   >> Biarkan anak merekam materi pelajarannya ke dalam kaset dan dorong dia               untuk mendengarkannya sebelum tidur.

Kinestetik
Gaya belajar Kinestetik (Kinesthetic Learners) mengharuskan individu yang bersangkutan menyentuh sesuatu yang memberikan informasi tertentu agar ia bisa mengingatnya. Biasanya, hanya dengan memegangnya saja, anak bisa menyerap informasi tanpa harus membaca penjelasannya.

Ciri-ciri gaya belajar Kinestetik yaitu:

–  Menyentuh segala sesuatu yang dijumpainya, termasuk saat belajar.
–  Sulit berdiam diri atau duduk manis, selalu ingin bergerak.
–  Mengerjakan segala sesuatu yang memungkinkan tangannya aktif. Contoh:        saat guru menerangkan pelajaran, dia mendengarkan sambil tangannya asyik    menggambar.
–  Suka menggunakan objek nyata sebagai alat bantu belajar.
–  Sulit menguasai hal-hal abstrak seperti peta, simbol dan lambang.
–  Menyukai praktek / percobaan.
–  Menyukai permainan dan aktivitas fisik.

Strategi untuk mempermudah proses belajar anak kinestetik:

>> Jangan paksakan anak untuk belajar sampai berjam-jam.
>> Ajak anak untuk belajar sambil mengeksplorasi lingkungannya                            (contohnya:  ajak dia baca sambil menggunakan gunakan obyek                          sesungguhnya untuk belajar konsep baru).
>> Izinkan anak untuk mengunyah permen karet pada saat belajar, jika                    anak  meminta.
>> Gunakan warna terang untuk menandai hal-hal penting dalam bacaan.

Kemampuan anak dalam menangkap materi dan pelajaran tergantung dari gaya belajarnya. Kita tidak bisa memaksakan seorang anak harus belajar dengan suasanan dan cara yang kita inginkan karena masing masing anak memiliki tipe atau gaya belajar sendiri-sendiri. Banyak anak menurun prestasi belajarnya di sekolah karena belajar tidak sesuai dengan gayanya. Anak akan mudah menguasai materi pelajaran dengan menggunakan cara belajar mereka masing-masing.

Please follow and like us:

  • 0

Menghadapi Karakter Anak Bagian 1

Anak – anak memiliki beragam sifat, kebiasaan, ciri khas, kemampuan, ketertarikan, dan lainnya. Seringkali orangtua bingung mengapa anaknya bergerak terus atau tidak bisa diam, seperti tidak ada lelahnya. Ada juga orangtua yang megeluh bahwa anaknya yang cerewet, selalu bicara, berisik, membuat kepala Ayah Bundanya pusing. Ada lagi anak yang pendiam, sedikit bicara namun jika sekali berbicara mengatakan ide – ide yang luar biasa, banyak berpikir, sensitif, dan mudah menangis. Masih banyak lagi anak – anak yang dikatakat galak, pemarah, penyayang binatang, senang memberi, suka menunda, sering tidur, dan sebagainya. Dimana kebanyakan orangtua bingung harus berbuat apa dan bagaimana menghadapinya.

Sesungguhnya jawabannya mudah. Untuk menjawabnya sederhana saja. Ambil contoh misalnya ada dua pengendara sepeda motor di tengah hutan pada siang hari. Pengendara pertama adalah seorang turis yang sedang jalan – jalan menggunakan motor. Pengendara ke-2 adalah seorang montir bengkel yang sedang menuju ke tempat temannya. Respon apa yang mungkin muncul dari masing – masing pengendara motor? Sudah bisa ditebak, bahwa respon pada umumnya, pengendara pertama akan bingung, menunggu orang datang membantu, atau marah – marah karena tidak ada yang membantu sampai malam tiba. Dia bersikap seperti itu karena dia tidak tahu cara memperbaiki sepeda motor yang mogok.

Lalu pengendara ke-2 sudah jelas apa yang akan dilakukannya. Ia akan memeriksa kerusakan dan memperbaikinya segera. Ia juga membawa peralatan bengkel darurat yang selalu ia siapkan dan memang mengerti cara memperbaiki sepeda motor yang mogok. Dia santai saja, tidak panik sama sekali. Sepeda motornya hidup kembali dan melanjutkan perjalanan.  Maka hal yang bisa kita petik dari cerita tersebut adalah jika kita memiliki banyak wawasan tentang cara menghadapi anak, respon kitapun akan tenang dan segera memperbaiki masalah yang terjadi pada anak.

Kita Akan memulainya dengan membahas mengenai kepribadian manusia dari buku personality plus karangan Florence Littauer. Di buku ini, Florence mengangkat ilmu yang sudah ada sejak 400 tahun sebelum masehi yang dipopulerkan oleh Hippocrates. Untuk dapat menolong insan yang memiliki kebutuhan dan kecenderungan berbeda-beda, kita perlu merujuk metode yang juga beraneka macam (Dalai Lama).

Manusia terbagi ke dalam empat kelompok kepribadian yaitu sanguinis, melankolis, koleris, dan plegmatis.

Sanguinis

Tipe yang ceria, heboh, suka bicara, mudah bergaul, agak ceroboh, pelupa. Cara mengahadapinya: 

Karakter sangunis adalah mereka yang ingin selalu diperhatikan, butuh kasih sayang, dukungan dan penerimaan dari orang-orang sekelilingnya. Mereka juga sangat haus pujian. Mereka melakukan segala sesuatu oleh niat untuk mendapatkan pujian. Sekecil apapun pujian dan penghargaan mereka pasti akan menyukainya. Seandainya dia sedang marah, kita harus lebih sabar untuk bisa menyenangkan hatinya dengan cara mencoba untuk membuat dia perhatian terhadap kita dengan menyuguhkan sesuatu yang menarik hatinya. Jangan sampai kita bersifat acuh terhadapnya. Jangan sekali-kali mengoreksinya ketika dia sedang marah karena marahnya tidak cepat reda. Carilah waktu yang tepat untuk mengingatkannya. Berusahalah untuk menjadi pendengar yang baik.

Koleris

Tipe pemimpin, tidak suka basa-basi, lugas, keras, percaya diri berlebih, sering merasa diri paling benar. Cara menghadapinya:

Anak – anak bertipe koleris tidak menyukai kritikan. Namun sebaliknya, mereka sangat suka mengkritik orang lain. Mereka suka berdebat, tetapi inti perdebatan itu adalah kemenangan baginya bukan mencari kebenaran. Jadi, jika kita terlibat pedebatan dengan orang-orang koleris, maka usahakan untuk tidak mengkritik opini mereka. Apabila kita tidak menyukai opini mereka, cukup kemukakan opini kita tanpa harus mematahkan opini dan argumentasi mereka.

Melankolis

Senang merenung, tipe pemikir, teratur, cenderung sensitif, moody. Cara menghadapinya:

Dalam menghadapi karakter melankolis ini memang tidak mudah. Kita harus peka dan segera mengoreksi diri kita sebelum ia mengoreksi kita. Jika ia sedang marah, jangan langsung diajak berbicara. Diamkanlah dan akuilah kesalahan kita walau sebenarnya kita tidak salah. Cara ini lebih aman dan nyaman. Melankolis butuh waktu untuk menenangkan diri karena mereka sibuk memikirkan dan mengoreksi kesalahan orang lain. Biasanya mereka sangat butuh dukungan untuk membenarkan pendapatnya. Untuk mengingatkan kesalahannya, mereka perlu diajak berpikir logis dengan mengembalikan kata-katanya. Kita perlu argumen yang kuat untuk meluluhkan hatinya.

Anak – anak bertipe melankolis menginginkan orang lain bisa memberinya dukungan, terutama dukungan yang bersifat moril. Terkadang mereka tidak bisa memecahkan permasalahan yang sedang mereka hadapi. Oleh karena itu kita harus mendengarkan keluh kesahnya dengan seksama. Jangan memotong pembicaraannya sebelum ia mempersilahkan kita menanggapi permasalahannya.

Plegmatis

Mencintai kedamaian, menghindari konflik, tenang, lambat, suka menunda. Cara menghadapinya:

Anak – anak bertipe plegmatis tidak menyukai orang-orang yang sama pasifnya atau lebih pasif dari mereka. Pada dasarnya, mereka lebih suka dipimpin dan mencari orang-orang yang bisa memotivasinya. Jika mereka dalam masalah biasanya cuma diam dan butuh waktu lama untuk menceritakan permasalahannya. Mereka paling tidak suka bila dipaksa untuk menceritakan permasalahannya dan lebih suka menangis. Mereka akan berbicara jika suasana hatinya sudah membaik.

Tipe plegmatis lebih suka dengan solusi dan paling tidak suka memperpanjang masalah. Paling tidak ada dua cara menghadapinya. Yang pertama, jangan terburu-buru untuk segera menyelesaikan masalah dengan mereka. Kedua, biarkan saja supaya mereka bisa berpikir lama, menilai, dan mencermati sikapnya sendiri.

Please follow and like us:

  • 0

Perubahan Cara Pandang Terhadap Anak

Category : UPDATES

 

Sebelum Tahun 80-an  Setelah Tahun 80-an
Setiap anak dilahirkan ada yang normal dan tidak (adhd, disleksia, dll) Setiap anak dilahirkan berbeda dan memerlukan perlakuan dan cara yang berbeda
Anak ada yang terlahir cerdas dan tidak cerdas Setiap anak cerdas pada bidangnya
Cerdas adalah bisa membaca, menulis, berhitung Kecerdasan itu tidak terbatas. Hal itu hanyalah kecerdasan berbahasa dan berlogika
Kecerdasan dapat diukur melalui tes IQ Kecerdasan itu lentur, tidak dapat diukur
Kegagalan belajar anak disebabkan faktor internal anak (adhd, add, dll) Kegagalan anak dalam proses belajar disebabkan dari faktor  eksternal (ketidakmampuan memahami gaya belajar, sifat dasar  anak, serta teknik mengajar)
Pandangan lebih difokuskan pada sisi kelemahan anak Lebih fokus pada kelebihan anak atau potensi terpendamnya
Belajar lebih kepada mengingat kembali yang disampaikan guru Belajar lebih kepada proses kreatif dengan cara berbeda dan menemukan hasil berbeda sesuai pengalaman masing-masing
Please follow and like us:

  • 0

Sex Education

Category : UPDATES

Kali ini adalah pembahasan mengenai cara mengajarkan anak tentang seks. Sesungguhnya seks adalah hal yang alamiah bagi makhluk hidup, yang diberikan Tuhan sebagai sarana untuk berkembang biak dan meneruskan generasi.

Pada umumnya anak – anak usia 2 – 8 tahun tidak mengerti tentang seks. Bagi mereka seks seperti bermain. Mereka belum memahami konsep seks, namun tidak begitu bagi orang dewasa. Saat terjadi kasus pelecehan seksual pada anak yang marak diberitakan media, yang dilakukan oleh predator anak, mungkin anak menganggapnya seperti bermain, namun sang predator sebagai orang yang telah mengerti, menganggapnya lebih dari bermain. Maka sangat perlu sekali kita membekali anak dengan sex education ini. Hal ini harus segera dilakukan, apalagi mengingat pada kasus – kasus yang terjadi di media, dimana tidak melapornya anak meskipun telah berkali – kali terjadi pada dirinya.

Elly risman, seorang Psikolog menjelaskan bahwa dalam membekali anak kecil mengenai seks, ajarkan kepadanya tiga macam sentuhan, yakni:

– Sentuhan baik (dari bahu ke atas, dari lutut ke bawah)
– Sentuhan bingung (dari bawah bahu ke atas lutut)
– Sentuhan buruk (yang ditutup pakaian renang)

Maka jika anak mengalami sentuhan bingung atau buruk, ajarkan untuk langsung teriak “Tidak” atau “Tidak boleh”.

Kemudian jika anak sudah mulai bisa memahami konsep dalam menjelaskan sesuatu (biasanya di atas 8 tahun), maka tahapan selanjutnya adalah jelaskan pemahaman yang lebih dalam. Secara berurutan, penjelasan sex education menurut Dr. Ratna Mardiati (psikiater), yakni:

– Jelaskan tentang fungsi anatomi dan faali tubuh
– Penyakit menular seksual
– Cara mencegah dan mengobati

Pada dasarnya, sex education mengajarkan cara hidup sehat dengan perangkat reproduksi yang dimiliki. Sementara pornografi adalah gambaran tidak sehat, seperti  sadomasochism, kekerasan seksual, pelecehan, incest, group sex, voyeurism, exhibitionism, bestiality (Ratna Mardiati).

Pada prinsipnya, penjelasan mengenai seks adalah dengan menjelaskan berdasarkan sudut pandang ilmu kedokteran mengenai seks, bukan dengan hal – hal erotis tentang seks. Materi tentang seks menjadi cabul pada orang yang kendali dirinya sangat didominasi oleh aktivitas seksual.

Kemudian kapan waktu yang tepat untuk mengajarkan sex education kepada anak? Yakni pada saat anak bertanya mengenai alat kelamin atau organ seksual atau aktivitas seksual atau fenomena sosial mengenai seks, dan apapun yang berhubungan dengan seksualitas.

Please follow and like us:

  • 0

Menterapi Diri Sendiri

Category : UPDATES

Konsep ini sebenarnya mudah, namun perlu dilakukan dan dilatih terus menerus. Pengetahuan yang diikuti dengan praktik pengulangan atau tindakan yang berulang – ulang, akan menghasilkan keajaiban (Tung Desem Waringin).

©Image: Google

Sesungguhnya perbedaan orang normal dengan orang depresi hanyalah perbedaan pengambilan keputusan (Anthony Robbins). Setelah periode sedih atau momen menyakitkan, orang normal segera mencari cara untuk kembali menjalankan kehidupan seperti biasanya. Mereka juga langsung berusaha agar menjadi bahagia. Namun orang depresi, setelah periode sedih, selalu mencari alasan untuk sedih kembali. Ia menjadi menikmati kesedihannya.

Lalu konsep menterapi diri sendiri di sini adalah melatih diri untuk mengambil keputusan positif dalam memilih perasaan atas kejadian yang sedang dialami. Misalnya sedang kehilangan sesuatu. Biasanya ada pilihan perasaan negatif berupa kesal atau marah, dan perasaan positif ikhlas atau berbagi. Nah dalam hal ini, latihlah untuk memilih perasaan positif. Begitupun seterusnya saat mengalami masalah apapun, selalu ada pilihan perasaan positif dan negatif, lalu pilihlah yang positif.

Kemudian Konsep ini adalah kreativitas pikiran. Sesekali kita menemui momen yang memuat emosi negatif dengan intensitas yang besar, dan membutuhkan waktu cukup lama untuk meredakannya. Di sinilah kreativitas pikiran kita sangat dibutuhkan. Misalnya kita sedang merasa marah sekali kepada anak yang sulit melaksanakan disiplin atas perjanjian membereskan kamar sendiri yang telah dibuat bersama, misalnya. Ketika emosi itu muncul, duduklah di kursi atau tempat yang nyaman. Kemudian letakkan telapak tangan kiri di pegangan kursi. Lalu bayangkan emosi marah yang dirasakan tadi mengalir seluruhnya ke arah pundak kiri, kemudian ke lengan kiri, dan terus mengalir hingga ke telapak tangan kiri. Lalu emosi tersebut diteruskan keluar dari telapak tangan kiri menuju pegangan kursi tadi, dan terus mengalir ke bumi, hingga emosi marah tersebut habis ditelan bumi. Dalam prosesnya, bayangkan terus seperti itu hingga emosi marahnya terkuras habis dan kita merasa lega. Setelah lega biasanya muncul ide untuk mengatasi permasalahan disiplin tersebut atau baru ingat penyebab mengapa anak belum disiplin.

Contoh lain misalnya menggunakan balon tiup. Bayangkan di tangan kiri sedang memegang balon tiup. Lalu bayangkan emosi marah tadi mengalir hingga telapak tangan kiri dan masuk ke dalam balon. Balonnya semakin lama semakin membesar dan meledak. Emosi marahpun menjadi menguap ke udara dan hilang.

Contoh lainnya adalah dari Dr. Hew Len. Beliau adalah seorang psikiater di salah satu rumah sakit jiwa di Hawai. Dr. Hew Len menyembuhkan satu persatu pasien dengan duduk di sebelahnya dan berkonsentrasi. Dia membayangkan memunculkan energi cinta dari dalam tubuhnya, kemudian mengalir ke dalam diri pasien. Hasilnya, satu persatu pasien di rumah sakit jiwa tersebut sembuh. Karena penyakit paling tidak suka dengan energi dan perasaan cinta.

Kemudian cara untuk memunculkan emosi positif. Misal jika ingin memunculkan emosi lemah lembut dalam diri. Katakan kepada diri sendiri bahwa “Saya ingin memiliki hati yang lembut” atau “Saya ingin menjadi orang yang lemah lembut”. Lalu bayangkan ada energi lemah lembut masuk ke dalam tubuh atau muncul dari dalam tubuh (misal cahaya warna hijau yang mewakili energi lemah lembut atau apapun). Kemudian bayangkan diri Anda menjadi orang yang lemah lembut saat bertemu orang, saat mendidik anak, di tempat kerja, bersama teman – teman, dan sbagainya. Kemudian lakukan terus praktek ini setiap hari, bayangkan terus, dan rasakan terus.

Jadi kesimpulan dari pembahasan teknik menterapi diri sendiri ini adalah dengan mengambil keputusan untuk memilih perasaan positif dan kreativitas pikiran untuk meredakan emosi dan memunculkan energi positif. Sesungguhnya banyak sekali teknik terapi yang dasarnya adalah kreativitas pikiran. Silahkan kembangkan sendiri cara yang cocok dengan Anda.

Please follow and like us:

  • 0

Mewariskan Negeri Indonesia

Category : UPDATES

Betapa kaya negeri Indonesia dengan sumber daya alamnya, keindahan alamnya, keanekaragaman budayanya. Mari kita renungkan kembali keindahan objek wisata Raja Ampat, Candi Borobudur, Malioboro, Bali, Danau Toba, Pantai Pangandaran, Tangkuban Perahu, Kepulauan Seribu, dan masih banyak lagi. Negeri Indonesia ini sesungguhnya negara kaya, bahkan amat sangat kaya. Namun Indonesia masih dalam golongan negara berkembang, bahkan rakyat yang tergolong tidak mampu secara ekonomi atau rakyat miskin pun masih banyak. Secara logika, Tidak mungkin ada negara miskin dengan kekayaan mampu menghasilkan panen dua hingga tiga kali dalam setahun. Sebuah negeri sepanjang tahun disinari matahari. Terdapat begitu banyak tambang seolah tinggal ambil. Lautan luas begitu banyak ikan, bergaris pantai dengan panjang lebih dari 40.000 kilometer yang bisa dioptimalkan melalui budidaya aqua culture, misalnya. Kayupun menjadi tanaman (seperti singkong). Belum lagi sumber – sumber mata air, dan masih banyak lagi.

©foto: Google

Chairul Tanjung pernah mengatakan, “Dengan kondisi negeri sedemikian kaya, mengapa lantas kemiskinan masih ada? Sulit masuk akal. Ia berpendapat bahwa harus ada koreksi terhadap kebijakan publik yang menyangkut alokasi sumber daya ekonomi. Tidak hanya masih banyaknya kemiskinan yang sedang dialami negeri ini. Belumkah cukup teguran dari tragedi sejarah yang mengakibatkan lepasnya Timor – Timur, sebagian pulau Kalimantan yang kini dimiliki negara lain, kemudian tambang emas di Papua. Tidak inginkah kita mempertahankan Negeri Indonesia yang indah ini untuk anak – anak kita? Lalu apa yang harus kita tanamkan kepada anak – anak generasi penerus bangsa?
Dengan menyadari ini semua, Kita harus menanamkan benih kesadaran akan kepemilikan Negeri ini, bahwa Negeri Indonesia ini adalah milik anak – anak bangsa. Sepatutnya, sering – seringlah kita dengungkan kepada anak – anak, bahwa setelah memiliki karakter yang baik dan kuat, ilmu dan wawasan yang luas, lalu sukses dengan bidangnya masing – masing, ingatkanlah untuk menjaga Negeri ini. Membawa negeri ini ke masa depan yang cerah, makmur, memperkuat persatuan, kemudian mewujudkan keadilan sosial.
Chairul Tanjung pun mengatakan bahwa untuk mencapai semua itu dari sudut pandang ekonomi kerakyatan, maka lakukan penguasaan aset ekonomi, seperti akses informasi pasar, akses pembiayaan, akses teknologi, dan akses pengambilan keputusan. Lalu aset sumber daya alam, serta aset manusianya sebagai anak – anak generasi penerus. Marilah kita jaga Negeri Indonesia ini. Kita kuatkan wawasan nusantara kepada generasi. Kita titipkan Indonesia kepada anak – anak kita.

Please follow and like us:

  • 0

Cinta Tanpa Syarat

Cinta tanpa syarat yakni mencintai karena cinta itu sendiri. Mencintai sesuatu karena cintanya terhadap sesuatu itu. Misal seseorang yang cinta terhadap komputer, sehingga selalu bersama komputer seharian. Seseorang yang cinta bermain gitar, yang bermain gitar sepanjang waktu. Orang yang cinta terhadap melukis, belajar, membaca, berhias, bermain sepak bola, berenang, fitnes, dll. Atau mencintai orang karena orangnya, bukan karena hal – hal yang melekat pada orang tersebut. Misal karena orang tersebut kaya, keturunan keluarga terkenal, darah ningrat, mata biru, dan sebagainya. Jika karena satu hal / alasan untuk mencintai seseorang, maka batallah cinta tanpa syarat itu sendiri. Maka menjadi cinta dengan syarat.

Cinta tanpa syarat yang akan kita fokuskan kali ini adalah bagaimana kita mencintai anak – anak kita tanpa syarat apapun. Kita mencintai anak karena hadirnya anak dalam hidup kita. Karunia yang dititipkan kepada kita untuk dibesarkan menurut tujuan penciptaannya di dunia ini. Dimana tujuan penciptaan masing – masing anak berbeda – beda. Indikator sederhananya adalah kebahagiaannya dalam hidup. Misal ada yang menjadi pemain sepak bola, musisi, artis, scientist, guru, pengusaha, yang saat ditanya menjawab karena senang dengan profesi yang digeluti dan menikmatinya.

Konsep cinta tanpa syarat yang dibahas kali ini adalah aplikasi dari teori Carl Rogers, seorang tokoh Psikologi Humanistik, tentang penerimaan tanpa syarat (Unconditional positive regard). Teori tersebut menjelaskan bahwa Sikap penghargaan tanpa tuntutan yang ditunjukkan terapis pada klien, sangat bermanfaat dalam pemecahan masalah. Jika individu menerima cinta tanpa syarat, maka ia akan mengembangkan penghargaan positif bagi dirinya, dimana ia akan dapat mengembangkan potensinya untuk dapat berfungsi sepenuhnya. Jadi, jika kita mengembangkan cinta tanpa syarat kepada anak – anak, mengizinkannya tumbuh dan berkembang dengan senang, semangat, merasa dirinya berharga, maka potensi – potensi anak akan muncul dengan sendirinya.

Sekarang mari kita lihat bagaimana keseharian kita bersama anak – anak yang kita cintai ini. Apakah kita senang jika anak mendapat nilai bagus di sekolah? Jika anak menjadi juara kelas atau juara umum? Jika anak mendapat beasiswa? Jika anak punya mainan mahal? Jika anak bisa foto selfie di luar negeri? Dan lain sebagainya. Tidak ada yang salah dengan semua itu, namun pertanyaannya adalah apakah anak senang? Ataukah orangtuanya saja yang senang? Atau anak dan orangtua sama – sama senang dan menikmati kebersamaan? Tentunya yang terakhir adalah hal yang kita sepakati, bukan?

Sudah umum sekali kita lihat fenomena yang ada di masyarakat saat pembagian raport sekolah. Ada perasaan deg – degan takut kalau nilai anak jelek atau semangat dan percaya diri karena anaknya yang sering mendapat nilai bagus pada saat ulangan pastilah mendapat nilai bagus pula di akhir smester bahkan mendapat ranking. Bahagialah bagi anak yang selalu mendapat nilai bagus karena senang belajar dan memiliki orangtua yang senang dengan anaknya dan mensupport hal – hal yang menunjang prestasi anak. Hal ini memang biasanya karena anaknya juga senang sekolah dan belajar.

Namun bagaimana dengan anak – anak yang dalam kondisi tidak seperti di atas. Anak yang meskipun dapat nilai bagus atau ranking satu namun wajahnya tidak ceria karena dia tidak senang. Ia terpaksa memaksakan diri belajar dan berusaha keras memenuhi harapan orangtuanya, yang bukan keinginannya sendiri. Ada lagi misalnya anak yang nilainya selalu kurang betapapun kerasnya dia belajar, namun orangtuanya tetap memaksakan belajar terus agar mendapat nilai tinggi. Ada juga anak yang sebenarnya mampu untuk mendapat nilai tinggi, tapi dia tidak suka sekolah, namun harus terus sekolah, tidak ada alternatif lain, sehingga nilainyapun anjlok. Pemahaman tersebut menunjukkan seolah – olah hanya dengan mendapat nilai tinggi di sekolah, baru bisa hidup dengan layak dan memiliki masa depan yang cerah. Padahal jika kita liat pemain sepak bola dunia seperti Messi dan Ronaldo, apakah mereka memakai semua mata pelajaran di sekolahnya sekarang?

Dr. Foster Cline dan Jim Fay, penulis buku Parenting with Love and Logic, mengatakan bahwa anak yang dididik dengan gaya orangtua yang militer (yang harus menuruti perintah orangtua tanpa kompromi) dan helikopter (selalu membantu anak segalanya), akan menjadi anak – anak yang mungkin baik terhadap orangtua ketika masih kecil, tetapi kemudian tidak hormat dan memberontak setelah remaja. Mereka akan menjadi anak yang tidak siap menghadapi tantangan – tantangan setelah dewasa. Anak – anak ini juga payah dalam mengambil keputusan.
Jika ini yang terus terjadi, dimanakah ada cinta tanpa syarat? Cinta yang menunjukkan bahwa kita mencintai anak karena hadirnya anak dalam hidup. Cinta yang membuat kita bahagia sepanjang waktu bersama karunia yang dititipkan ini kepada kita. Cinta dengan menikmati kebersamaan para orangtua dengan anak. Inginkah kita hidup dengan bahagia, menyenangkan, damai, penuh semangat, dan suka cita dalam keluarga? Dimana rezeki melimpah ruah dalam keluarga yang berkah karena bahagia, yang mudah – mudahan bisa menginspirasi keluarga yang lain. Jika ya, mari kita tumbuhkan cinta tanpa syarat untuk anak – anak.

“Dengan lebih mencintai anak dibanding keberhasilannya, maka kita menunjukkan pada anak bahwa dirinya lebih berharga dibanding kumpulan prestasi – prestasinya”.

 

©Copyright FunkyParenting

Please follow and like us:

Parenting Quotes