Tahu dan Bisa

Mengetahui cara melakukan sesuatu, belum tentu bisa melakukannya, namun bisa melakukan sesuatu, pasti mengetahui caranya. Misalnya, seseorang yang mengetahui caranya berenang, belum tentu bisa berenang, namun orang yang bisa berenang pasti mengetahui caranya berenang.

Dalam dunia pendidikan wirausaha, begitulah yang dikatakan oleh salah seorang tokoh wirasusaha di Indonesia, yaitu Bob Sadino. Dia menjelaskan dalam rumusan kuadrannya, yang disebut Roda Bob Sadino (RBS). Dalam RBS, dijelaskan bahwa setelah seseorang mengetahui teori, haruslah masuk ke tahap praktek agar menjadi bisa. Setelah bisa melakukan, masuk ke tahap berikutnya yakni menguasai bidang tersebut sehingga menjadi ahli. Kemudian masuk ke wilayah terampil dan kembali memperdalam keilmuan melalui teori yang semakin tinggi tingkatannya.

Begitulah alur pembelajaran dan konsep RBS yang dibangun oleh Bob Sadino (2009). Selain menggambarkan proses dalam dunia wirausaha, model ini bisa ditarik untuk menganalisis berbagai permasalahan masyarakat, sejauh permasalahan itu bersangkut paut dengan kompetensi seseorang.

Menurut Bob Sadino, penyebab permasalahan banyaknya pengangguran di Indonesia, terutama yang lulusan sarjana adalah karena selain sempitnya lowongan pekerjaan dan persaingan, tidak lain adalah karena sebagian besar yang dipelajari di bangku kuliah adalah teori, bukan praktek. Sebagian besar mahasiswa dididik hanya dalam ranah pengetahuan, bukan penyelesaian masalah masyarakat dan inovasi kemajuan. Salah satu hal yang juga menjadi keprihatinan Bob Sadino adalah ada 750.000 – 1.000.000 sarjana yang menganggur di Indonesia (Sadino, 2009).

Menarik pendapat Bob Sadino di atas, jika kita masukkan dalam dunia parenting, miris sekali kita melihat persamaannya. Kita sebagai orangtua yang memiliki anak, tidak pernah ada pelatihan atau pendidikan wajib sebelum memiliki bayi. Tidak juga ada praktek keterampilan mengurus dan membimbing anak. Bahkan tidak ada yang namanya manual book tentang anak yang telah dilahirkan. Padahal hampir segala hal yang diciptakan manusia, ada manual book nya. Mulai dari handphone, televisi, lemari es, motor, mobil, tank, laptop, dan masih banyak lagi.

Jika dalam Roda Bob Sadino, mengetahui saja tanpa praktek, tidak cukup, apalagi saat kita memiliki anak. Mengetahui teori baku tentang anak saja kita tidak tahu, hanya berdasarkan pendapat orang – orang yang sudah memiliki anak, kemudian bagaimana kita mengarungi kehidupan yang penuh lika – liku ini bersama anak kelak? Bagaimana kita membimbing putera – puteri kita nanti? Alangkah fatal sekali jika kita memahami ini.

Namun di sini bukanlah tempat menakut – nakuti, namun tempat untuk bagaimana mencari solusi, agar kita dapat menghadapi setiap masalah yang ada atau yang akan datang. Marilah kita bahas sisi – sisi parenting yang wajib kita bekali untuk diri kita para orangtua yang mencintai putera – puterinya.

Mari kita mulai dari inspirasi – inspirasi yang menyentuh hati. Karena insprasi yang menyentuh hati, akan membuat kita tergerak untuk bertindak. Inspirasi yang menyentuh bisa kita peroleh dari buku, seminar, kursus, ceramah, pengalaman orang lain, mengamati alam sekitar, dan sebagainya.

Ariesandi (pendiri Akademi Hipnoterapi Indonesia) mengatakan bahwa agar informasi masuk ke alam bawah sadar manusia, harus melalui tiga gerbang, yakni pikiran sadar kemudian critical factor, kemudian alam bawah sadar. Jadi informasi yang masuk ke alam bawah sadar inilah yang akan menentukan perilaku manusia atau yang tadi kita sebut informasi yang menyentuh. Jika yang masuk ke alam bawah sadar adalah informasi dan contoh inspirasi mengenai rajin bekerja, menolong orang lain, rajin menabung, maka perilaku sehari – hari yang sering ditunjukkan adalah seperti itu. Begitupun sebaliknya, jika yang masuk ke alam bawah sadar adalah mencuri, berbohong, membentak, membenci, maka perilaku yang akan sering dilakukannya maupun sikap yang ditunjukkanya juga seperti itu.

Perilkau dari alam bahwa sadar ini, salah satunya terbentuk dari seringnya informasi diterima dan contoh perilaku yang menginspirasi. Coba kita lihat perilaku anak – anak kita di rumah. Apabila anak – anak menjadi sering membentak, memukul atau berkata kasar, kemungkinan besar karena mereka telah sering menerima informasi atau perlakuan seeperti itu, entah kita yang memberikannya atau orang lain atau dari media elektronik. Jadi prosesnya, karena anak telah mengetahui perilaku memukul, kemudian sering dia lihat, lalu dia praktekkan, maka anak akan menjadi bisa memukul bahkan sampai terampil memukul karena sudah seringnya dilakukan.

Jika kejadian ini sudah terlanjur terjadi, ada solusinya. Karena otak manusia bersifat lentur, yakni akan beradaptasi sesuai situasi dan kondisi, maka kita ciptakan situasi dan kondisi baru yang lebih lembut, lebih penyayang, peduli, saling membantu, agar otak anak yang tadinya terbentuk kebiasaan mudah memukul, akan menyesuaikan menjadi lembut dan penyayang. Hal ini bisa dianalogikan seperti gelas yang telah terisi kopi. Gelas itu awalnya berwarna hitam. Setelah diisi dengan air putih terus menerus, dengan sabar, maka gelas tersebut akan menjadi putih bersih kembali.

Contoh ke-2 adalah seperti saat belajar menyetir mobil. Awalnya tubuh kita kaku dan tidak bisa berbuat apa – apa di depan setir. Setelah berlatih terus menerus, maka tubuhpun akan mulai bisa dan terbiasa menyetir mobil.

Belajar setir mobil adalah salah satu contoh baik dalam proses pembelajaran. Jika sebagian besar proses pendidikan di Indonesia seperti belajar setir mobil, yaitu menyeimbangkan belajar dan praktek, maka kualitas kehidupan kita akan menjadi lebih baik dan daya saing bangsa kita akan maju di ranah Internasional.

Dengan mengetahui penjelasan ini, demi masa depan anak – anak kita, marilah kita memilihkan pendidikan yang menyeimbangkan antara teori dan praktek, dan marilah kita menciptakan lingkungan rumah yang sehat untuk fisik, pikiran, dan mental anak – anak kita.

Please follow and like us: